Bupati Sumedang Resmikan Tugu 0 Kilometer : Semua Bisa Swafoto di Sini

oleh -1 views

Kabupaten Sumedang kini mempunyai destinasi wisata baru di wilayah perkotaan Sumedang, yakni tugu 0 kilometer.

Lokasinya berada di jalur protokol Jalan Prabu Geusan Ulun di  Kelurahan Regol Wetan Kecamatan Sumedang Selatan, tepatnya dekat perempatan Apotik Pajaji.

Tugu 0 kilometer Sumedang   berada di antara pusat pemerintahan Alun-alun Sumedang dengan  pusat perekonomian Sumedang sebelah utara Sungai Cipeles.

“Semua orang bisa berswafoto di tugu 0 km ini. Bahkan yang mau menikah, bisa  melakukan pre wedding di sini juga. Memulai mengarungi samudera rumah tangga bersama pasangan dari nol,” ucap Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir disela “Peresmian Tugu 0 km” di Jalan Prabu Geusan Ulun, Sumedang, Selasa, 8 September 2020.

Hadir mendampingi bupati, di antaranya Kepala Dishub Surrys Laksana Putra, Kepala Dinas Perkimtan Gungun Ahmad Nugraha dan  Kabag Humas dan Protokol Asep Taufiq.

Menurut dia, titik  0 kilometer  merupakan acuan atau marka tanah guna menentukan jarak dari satu kota ke kota lainnya atau dari  daerah ke daerah lainnya.

Umumnya tepat di titik nol tersebut,  ditandai dengan bangunan tugu atau patok.

Patok 0 km tersebut harus  dijadikan sesuatu yang menarik bahkan  menjadi salah satu ikon dan land mark Sumedang.  Seperti halnya Monumen Lingga di tengah Alun-alun Sumedang.

“Terlebih Pemkab Sumedang sudah mendeklarasikan sebagai kabupaten wisata,  sehingga semua tempat harus menjadi destinasi wisata.  Untuk itu lah,  kami menata dan membangun tugu 0 kilometer yang saya resmikan hari ini,” tutur Dony.

Fungsi lain dari titik 0 km, kata dia, guna memudahkan orientasi seseorang yang berada di dalam kota. Dulu, penomoran jalan juga berpatokan pada titik nol tersebut. Semakin dekat dengan tugu,  maka nomor jalan semakin kecil.  Sebaliknya,  semakin jauh dengan tugu  maka nomor jalan akan semakin besar. “Dengan demikian, orang yang berada di tengah kota bisa melakukan orientasi,” katanya.

Dikatakan,  dulu setiap jarak 30-40km terdapat gardu pos untuk menggantikan kuda yang membawa kereta pos. Di titik 0 km itu lah, terjadi aktivitas tersebut.

Lama-kelamaan,  di sekitar gardu pos terbentuk keramaian dan menjadi desa atau kota. Padahal, sebelumnya lokasi gardu itu hanya tempat kandang kuda kereta pos. Sehingga pengiriman pos terus berjalan sampai tujuan.

“Sekarang jika diperhatikan jarak antara tiap kota sepanjang jalan pos ini berjarak sekitar 30-40 km,” ujarnya.

Lebih jauh Dony menjelaskan, dalam sejarahnya, Sumedang salah satu kabupaten yang dilintasi Jalan Raya Pos, De Grote Postweg yang terbentang dari Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km.

Jalan yang dibangun masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Williem Daendels tersebut,  selesai dibangun dalam waktu   1 tahun (1808).

Yang paling dikenang dalam pembangunan jalan pos yang melintasi Sumedang tersebut, yakni saat menerobos hutan, menerabas pegunungan cadas yang kini dikenal dengan Cadas Pangeran.

Medan yang sangat berat namun dikerjakan dengan peralatan sederhana.

“Dengan medan yang demikian berat ini lah untuk pertama kalinya, jumlah korban yang jatuh dan meninggal dunia sangat banyak. Sejarah mencatat ada sekitar 5.000 meninggal dunia,” katanya

Ia menambahkan,  pembangunan jalan pos ini melahirkan kisah heroik Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX atau yang lebih dikenal Pangeran Kornel.

Sebagai bentuk protes akibat banyak korban berjatuhan, Pangeran Kornel bersalaman dengan tangan kiri saat Deandles  melihat kondisi pembangunan jalan ke Sumedang. Sementara tangan kanannya memegang keris yang terselip di pinggangnya.

“Pangeran Kornel  mengatakan banyak korban jatuh karena medan yang berat tapi peralatan seadanya. Daendles mengambil alih pembangunan jalan dengan melibatkan pasukan Zeni Belanda,” ucap Bupati Dony.

(PR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *