Ini Dia Daftar Upah Minimum Kota/Kabupaten di Jawa Barat Tahun 2020

oleh -37 views

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akhirnya menyetujui rekomendasi besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2020 di 27 kabupaten/kota di daerah tersebut.

Keputusan tersebut tercantum dalam surat edaran bernomor 561/75/Yanbangsos terkait pelaksanaan UMK 2020 di Jabar.

Dalam surat tersebut pihaknya memberikan penekanan pada pekerja yang sudah memperoleh upah lebih tinggi dari UMK atau UMK Sektoral Khusus 2019 tidak boleh berkurang upahnya.

“Upah pekerja yang memiliki masa kerja lebih dari satu tahun ditentukan berdasarkan hasil perundingan atau kesepakatan antara perusahaan dengan pekerja atau serikat pekerja,” katanya, Jumat (22/11/2019).

Ketentuan ini, menurutnya, berlaku bagi pekerja kontrak yang menunjukan bekerja lebih dari satu tahun. Pihaknya pun meminta perusahaan wajib menyusun struktur dan skala upah dengan memperlihatkan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetensi yang wajib disampaikan pada serikat pekerja.

“Juga melaporkan ini pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota,” tuturnya. Pihaknya mendorong agar perusahaan melaksanakan perundingan bipartite untuk menetapkan upah dan besaran kenaikannya serta melaporkan pada instansi terkait.

“Pekerja, serikat pekerja/buruh dan masing-masing perusahaan mangoptimalkan perundingan upah yang berkeadilan dan ditujukan untuk kesejahteraan pekerja, dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan dan kelangsungnan usaha,” paparnya.

Provinsi juga mendorong pekerja yang belum memiliki serikat di perusahaan untuk segera membentuk lembaga kerja sama bipartite dan mengaktifikan peran lembaga untuk perundingan upah.

Berikut daftar UMK di Jawa Barat:

  • Kabupaten Karawang Rp. 4.594.324
  • Kota Bekasi Rp. 4.589.708
  • Kabupaten Bekasi Rp. 4.498.961
  • Kota Depok Rp. 4.202.105
  • Kota Bogor Rp. 4.169.806
  • Kabupaten Bogor Rp. 4.083.670
  • Kabupaten Purwakarta Rp. 4.039.067
  • Kota Bandung Rp. 3.623.778
  • Kabupaten Bandung Barat Rp. 3.145.427
  • Kabupaten Sumedang Rp. 3.139.275
  • Kabupaten Bandung Rp. 3.139.275
  • Kota Cimahi Rp. 3.139.274
  • Kabupaten Sukabumi Rp. 3.028.531
  • Kabupaten Subang Rp. 2.965.468
  • Kabupaten Cianjur Rp. 2.534.798
  • Kota Sukabumi Rp. 2.530.182
  • Kabupaten Indramayu Rp. 2.297.931
  • Kota Tasikmalaya Rp. 2.264.093
  • Kabupaten Tasikmalaya Rp. 2.251.787
  • Kota Cirebon Rp. 2.219.487
  • Kabupaten Cirebon Rp. 2.196.416
  • Kabupaten Garut Rp. 1.961.085
  • Kabupaten Majalengka Rp. 1.944.166
  • Kabupaten Kuningan Rp. 1.882.642
  • Kabupaten Ciamis Rp. 1.880.654
  • Kabupaten Pangandaran Rp. 1.860.591
  • Kota Banjar Rp. 1.831.884

Surat edaran Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menekankan agar pengusaha dan pekerja melaksanakan perundingan bipartit untuk menetapkan upah dan besaran kenaikan UMK 2019 dinilai pakar hukum perburuhan Saut Kristianus Manalu tepat.

Saut Manalu mengatakan bentuk surat edaran pelaksanaan UMK kabupaten/kota di Jabar tahun 2020 sudah sesuai dengan konstruksi hukum.

Menurutnya yang wajib ditetapkan oleh Gubernur adalah Upah Minimum Provinsi (UMP), sementara jika UMK tidak ditetapkan oleh Gubernur sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja 78/2015 tidak melanggar.

Pihaknya mengaku sudah membaca surat edaran gubernur terkait UMK 2020 yang dianggap bisa menjadi angin segar penetapan UMK dibicarakan antara serikat pekerja dengan pihak perusahaan langsung.

“Harus ada perundingan dan perundingan tidak boleh menghancurkan upah yang selama ini telah diterima. Spirit hubungan industrial itu perundingan,” katanya, di Gedung Sate, Jumat (22/11/2019).

Menurutnya dengan mengeluarkan surat edaran yang menyatakan bahwa UMK 2020 tidak boleh lebih rendah dibanding UMK 2019 dan menyerahkan mekanisme itu berdasarkan rundingan dalam skala lokal langkah Ridwan Kamil sudah tepat.

“Itu sudah tepat menyerahkan pada pekerja dan pengusaha. Kalau sudah melewati batas upah minimum ya itu idealnya dirundingkan, setiap perusahaan itu memiliki kondisi kemampuan yang berbeda tingkat produktifiktas pekerja yang berbeda,” tutur mantan hakim ad hoc pengadilan industrial tersebut.

Gubernur juga menurutnya menekankan kebijakan yang penting dengan memastikan UMK 2020 tidak boleh rendah dengan UMK 2019. Saut menilai dengan menerapkan hal ini maka tidak ada kondisi penurunan upah pekerja seperti yang dikhawatirkan.

“UMK 2019 itu masih berlaku, tapi kenaikannya tergantung pada perundingan dengan menetapkan skala dan struktur upah,” ujarnya. Maka, ketika kenaikan disahkan tidak lebih rendah dari UMK 2019, menurutnya akan tercipta suatu iklim baru hubungan industrial yang mengedepankan perundingan di tingkat serikat pekerja dan pengusaha.
“Kebijakan ini juga akan mendewasakan serikat pekerja,” tuturnya. Saut menilai kebijakan UMP yang sudah berjalan cukup efektif menekan peluang disparitas upah. Kedua, dengan pekenanan perundingan bipartit maka pemerintah daerah tinggal memastikan perundingan bisa berjalan dengan baik.

“Lalu adanya struktur dan skala upah ini bisa menjadi acuan dan transparansi yang membuat pekerja nyaman, pemerintah tetap mengawasi dengan fair dan memperhatikan kemampuan dari perusahaan,” katanya.

(ayobandung.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *